Mahasiswa Kimia UNEJ Raih Juara II Pendikar 2026 melalui Gagasan B-LIGHT Berbasis Biohidrogen dari Limbah Kulit Pisang

Bogor, 12 September 2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Jember. Sherlyandini Trisfena Aprilisindi, mahasiswa Jurusan Kimia angkatan 2023, berhasil meraih Juara II Pendikar 2026 (Pendidikan Karya 2026) yang diselenggarakan oleh Departemen Pengembangan Karir BEM Sekolah Vokasi IPB.

Dalam kompetisi yang mengusung tema “Careerlab: Create Ideas, Explore Potential to Build Future Career” dengan subtema renewable energy, Sherly mengangkat sebuah gagasan berjudul “B-LIGHT: Pemanfaatan Biohidrogen dari Limbah Kulit Pisang sebagai Sumber Energi Darurat Portabel bagi Wilayah Terdampak Bencana.”

Gagasan tersebut berangkat dari keresahan Sherly terhadap kondisi masyarakat yang terdampak bencana, khususnya ketika akses terhadap listrik dan komunikasi ikut terganggu. Ketertarikannya semakin kuat setelah membaca berbagai cerita masyarakat di media sosial mengenai kesulitan menghubungi keluarga yang berada di daerah terdampak bencana.

Sebagai mahasiswa yang juga merantau, Sherly mengaku dapat memahami kekhawatiran tersebut. Ia kemudian membayangkan kondisi para pengungsi yang harus bertahan dalam situasi serba terbatas.

“Saya juga pernah melihat kondisi tempat pengungsian yang cukup memprihatinkan. Kemudian saya tiba-tiba kepikiran, bagaimana keadaan anak-anak atau bayi di sana yang membutuhkan kenyamanan sederhana, seperti penerangan dan kipas angin ketika gerah?” ungkap Sherly.

Dari keresahan tersebut, Sherly mulai mencari kemungkinan pemanfaatan sumber daya yang mudah ditemukan di sekitar sebagai sumber energi alternatif. Ia kemudian mengembangkan gagasan pemanfaatan limbah kulit pisang untuk menghasilkan biohidrogen, yang selanjutnya dikonversi menjadi energi listrik menggunakan fuel cell.

B-LIGHT dirancang sebagai konsep energi portabel yang dapat menjadi alternatif sumber listrik dalam situasi darurat. Gagasan ini sekaligus mengangkat potensi pemanfaatan limbah kulit pisang yang jumlahnya sejalan dengan tingginya produksi komoditas pisang.

“Masalah yang ingin dijawab adalah kondisi ketika terjadi bencana alam, jaringan listrik menjadi infrastruktur yang sering ikut terdampak sehingga masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan akses listrik, bahkan untuk kebutuhan sederhana seperti penerangan atau pengisian daya ponsel,” jelasnya.

Menggabungkan Pengetahuan Kimia dan Kemampuan Desain

Dalam mengembangkan B-LIGHT, Sherly tidak hanya melakukan penelusuran literatur untuk memahami konsep teknologinya, tetapi juga memanfaatkan keterampilannya dalam bidang desain.

Sherly memiliki ketertarikan pada kegiatan mengedit dan membuat desain. Pengalamannya sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), khususnya ketika dipercaya berada di divisi Public Relations, turut membantunya dalam mengolah informasi menjadi konten visual yang menarik dan mudah dipahami.

Ia kemudian menyusun informasi mengenai permasalahan, pemanfaatan limbah kulit pisang, proses produksi biohidrogen, hingga konversinya menjadi energi listrik ke dalam bentuk infografis.

“Saya tidak hanya memikirkan konsep dan teknologinya, tetapi juga bagaimana ide tersebut bisa disampaikan dengan sederhana melalui infografis,” tutur Sherly.

Untuk menghasilkan karya tersebut, Sherly membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Sebagian besar waktu digunakan untuk melakukan riset dan mencari jurnal pendukung yang dapat menjadi acuan dalam mengembangkan konsep B-LIGHT.

Namun, menurut Sherly, tantangan terbesar bukan hanya pada pengembangan ide, melainkan bagaimana mengatur waktu antara kompetisi dan kewajiban akademiknya sebagai mahasiswa.

Ia memilih menyelesaikan tugas kuliah terlebih dahulu, kemudian melanjutkan proses desain ketika memiliki waktu dan kondisi pikiran yang lebih tenang.

Dari Finalis hingga Juara II

Perjalanan Sherly dalam kompetisi ini juga tidak terlepas dari pengalaman mengikuti berbagai kompetisi sebelumnya. Ia mengaku beberapa kali mengikuti lomba poster dan infografis, tetapi sebelumnya capaian tertingginya adalah menjadi finalis tujuh besar.

Karena itu, ketika B-LIGHT berhasil masuk dalam lima besar, Sherly sudah merasa sangat bersyukur. Terlebih, kompetisi tersebut diikuti oleh sekitar 117 peserta.

“Waktu B-LIGHT bisa masuk lima besar saja saya sudah senang. Apalagi ketika akhirnya berhasil meraih Juara II, saya merasa sangat senang sekaligus terharu karena teringat proses yang sudah saya lalui,” ujarnya.

Bagi Sherly, pencapaian tersebut menjadi pengingat bahwa proses dan usaha yang selama ini dijalani tidak sia-sia.

Perjalanan menuju babak Grand Final di Bogor juga menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. Sherly sempat ragu untuk melanjutkan kompetisi karena babak final dilaksanakan secara luring dan mengharuskannya melakukan presentasi. Jarak yang cukup jauh sempat membuatnya mempertimbangkan untuk mundur.

Namun, dukungan keluarga membuatnya memutuskan untuk tetap berangkat dan menghadapi tantangan tersebut. Keputusan itu justru membawanya memperoleh pengalaman baru, mulai dari bertemu peserta dari berbagai perguruan tinggi hingga berbagi cerita dan pengalaman dengan peserta lainnya.

Dari perjalanan tersebut, Sherly mendapatkan pembelajaran mengenai keberanian untuk mengambil kesempatan dan kepercayaan terhadap proses yang dijalani.

Mengajak Mahasiswa Kimia Berani Mencoba

Sebagai mahasiswa semester akhir, Sherly berharap pengalamannya dapat mendorong mahasiswa Kimia UNEJ untuk lebih berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan ide.

Ia bahkan mengaku, apabila memiliki kesempatan untuk kembali menjadi mahasiswa baru, ia akan memilih untuk lebih banyak mengikuti perlombaan.

“Saya sendiri baru mulai mengikuti kompetisi ketika sudah semester 5. Dari situ saya menyadari bahwa ternyata banyak sekali hal yang bisa saya lakukan kalau saya mau keluar dari zona nyaman,” ungkapnya.

Menurut Sherly, mahasiswa Kimia memiliki bekal pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi berbagai gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, mahasiswa tidak perlu menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mulai berkarya.

“Jangan menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk memulai, karena kesempatan tidak selalu datang ketika kita sudah siap. Apabila teman-teman terpikirkan sebuah ide, coba kembangkan dan jangan takut untuk meminta pendapat atau berdiskusi dengan dosen,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti mencoba.

“Yang paling disayangkan bukan ketika kita mencoba lalu gagal, tetapi ketika kita sebenarnya punya kesempatan untuk mencoba, namun memilih untuk tidak memulainya karena terlalu takut.”

Dalam pencapaiannya, Sherly turut menyampaikan apresiasi kepada para dosen yang telah memberikan dukungan selama mengikuti kompetisi. Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Anak Agung Istri Ratnadewi, S.Si., M.Si. yang telah membantu dalam pengajuan proposal pendanaan untuk kebutuhan final lomba ke fakultas, serta Ibu Andriana Kusuma Pertiwi, S.Si., M.Si. yang mendampingi Sherly dalam berbagai perlombaan yang diikutinya.

“Dukungan dari para dosen Kimia UNEJ tentu menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Tanpa bimbingan, dukungan, dan kesempatan yang diberikan, saya mungkin tidak akan bisa sampai di titik ini,” tutup Sherly.

Prestasi Sherly melalui B-LIGHT menjadi salah satu bukti bahwa pengetahuan kimia dapat menjadi titik awal lahirnya gagasan yang responsif terhadap persoalan di masyarakat. Lebih dari sekadar pencapaian kompetisi, perjalanan tersebut menunjukkan pentingnya keberanian untuk mengembangkan ide, keluar dari zona nyaman, dan memanfaatkan kesempatan untuk terus belajar dan berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *